Apa yang diberi, itulah milik kita *hard, yet it is true*


Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seorang sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan.
Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.

Jika sayang, nyatakanlah, usah disimpan


Dari Anas ra, ia berkata: Ada seorang laki-laki duduk di hadapan Nabi SAW, kemudian ada seseorang yang lewat di situ, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata: “Ya, Rasulullah, sesungguhnya saya mencintai orang itu.”
Nabi SAW bertanya: “Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya?”
Dia menjawab: “belum.”
Beliau bersabda: “Beritahukanlah kepadanya!”
Kemudian dia menemui orang itu dan berkata: “Sesungguhnya saya mencintaimu karena Allah.”
Orang itu menjawab: “Semoga kamu dicintai oleh Zat yang menjadikanmu mencintaiku karenaNya” 
(HR Abu Daud)

Kerana sesungguhnya rasa itu jauh tersimpan di sudut hati. Kekadang, ucapan itulah yang akan mengikat kasih sayang. Bukan kita tidak tahu rasanya di hati, tetapi Rasulullah pun berpesan agar kita melembutkan hati dan menyatakan pada insan lain. Kerana rasa apresiasi itu akan buat cinta makin berbunga. Sedangkan Allah yang Maha Mengetahui akan isi hati hambaNya yang paling dalam pun meminta kita berdoa padaNya, bukan kerna DIA tidak tahu. Tapi kerana rasa kehambaan itu akan lebih terserlah, dan lebih kita tahu bahawa kita perlukan DIA. kerna bukan Allah tidak Tahu.
Apatah lagi manusia yang serba tidak tahu, dan lebih lemah hatinya, Kata-kata itulah akan menjadi penguat dan pengikat. 
Wallahualam

No Pain, No Gain

wat you need is
a little bit of patience n syukur

Generasi Y bercuti

adusss runsing2 dengan anak2 murid..cuti menjelang tiba..kalau ak dtempat mereka apa yg aku pikirkan mungkin masakan umi yg sedap, main ngan adik2, balik kampung, main basikal, cuti2 Malaysia..and semua aktiviti yang menyeronokkan bersama keluarga..waaaaaa indahnya zaman ituuuuu

*memory flashback*

aku antara mereka yg exited menunggu cuti..kalau blh org yg ptama nak keluar pagar..beg dah di packg beberapa hari awal hihi..kalau di oversea dulu, mmg siap packg 2-3x, timbang punya timbang sbb tak nak kasi lebih kilo..beg dpenuhi souvenir yg dbeli berbulan awal dr tarikh balik..xcukup dengan itu, aku akan beli satu set baju baru utk naik flight n utk jmpe family lepas hampir setaun xjmpe..xkurg jugak siap ke gym sbulam sblum n diet sikit2 huuuu lawakkan..tu smua sbb nk balik jmpe family huu alhamdulillah :-)

tapi budak2 ni, yg ada di minda n di bayang2kan adalah henset, lappy, tv, dan game..haish..mana peginya peranan manusia dlm lehidupan pelajar2 ni yer??adakah smua gadget2 tu yang menggantikan peranan ibu bapa dan adik beradik??adakah mereka kini lebih banyak deal dgn alam maya berbanding realiti??Allahu Akbar..apa produk yg sedang kita hasilkan ni??

Bukankah sepatutnya cuti dimanfaatkan utk family bonding??character building etc etc..saya pernah berada d satu taman di kl..kalau logiknya panas terik cuacanya, around 330ptg, tapi saya dapat lihat anak2 berbangsa cina (umur skolah rendah) ini berkumpul dan melakukan altiviti treasure hunt yg di handle oleh senior (kelihatanya spt pelajar univ)..Subhanallah kagum betul saya! Di saat itu mungkin kita lebih selesa tidur atau bersantai dshoppg complex bbanding bjemur d tgh panas.

tak cukup dengan itu, sy juga pernah singgah di kompleks renang bukit jalil..subhanallah, cuba teka siapa yg memenuhi tmpg tu?? sekali lagi anak2 kecil bangsa cina juga..sy jd bfikir sejenak..mmg mahal yuran yg perlu dbayar, tapi knapa mereka sanggup melaburkn duit ke situ??sedangkan rENang itu sunah nabi kiTa

Banyak yg perlu direnungkan ttg cuti kita kan..masa lapang kita..mungkin generasi Y hanyalah mangsa keadaan..mungkin peranan kita sebagai org yg lebih tua untuk membimbing mereka kan

Wallahualam~